Dalam Al-Hikam Ibn Athaillah bertutur “ Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu adalah bukti dari rabunnya mata batinmu “ karena Itu istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu , karena segala yang telah diurus oleh ‘selainmu’(yakni allah) tak perlu engkau turut mengurusnya.
Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir .seberapapun banyak energi yang kita curahkan untuk memenuhi suatu keinginan tetap saja tak akan tergapai jika tak sesuai dgn keputusan tuhan.Apa yang menurut kita baik ternyata bisa membawa keburukan dan sebaliknya. Boleh jadi ada keuntungan dibalik kesulitan.Boleh jadi kerugian muncul dari kemudahan..dan kemudahan muncul dari kerugian..Mana yg berguna dan mana yg berbahaya pada akhirnya adalah sesuatu diluar pengetahuan kita.
Oleh sebab itu menurut pandangan Ibn Athailah “ sibuk mengatur nasib sendiri’ sejatinya adalah tindakan yg kurang lebih sia-sia,apalagi bila kesibukan ini melalaikan kita dari tugas-tugas sebagai hamba. Lucu sekali bila manusia tetap berhasrat akan pengaturan diri . pertama, karena ia pada dasarnya tak mengetahui apa yg terbaik bagi dirinya..dan kedua karena allah yg maha mengetahui apa yg terbaik buat para makhluknya senantiasa dekat dan mengatur secara baik. Allah itu dekat dan karenanya senantiasa memberikan perhatian kepada kita sekalipun tanpa sepengetahuan kita. Tidak percaya kalau dia tak akan mengabaikan kita adalah bukti lemahnya iman kita.Allah juga sayang dan karenanya selalu mengatur urusan kita secara baik,Pengaturan kita terhadap kita adalah bukti ketidak tahuan kita akan pengaturan allah yang baik terhadap diri kita.dan karena adalah juga bukti minimnya cahaya makrifat di hati kita.



