Pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah “Ilmu Laduni” artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)
Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).
Bagian pertama (didapat tanpa belajar) terbagi menjadi dua macam: Ilmu Syar’iat dan Ilmu Ma’rifat
Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Khidhir: “Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)
Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam: “Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.”
Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.
Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.
Bagian Kedua
Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.
Dari ketiga ilmu ini (syari’at, ma’rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari’at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.
KHURAFAT SHUFI
Istilah “ilmu laduni” secara khusus tadi telah terkontaminasi (tercemari) oleh virus khurafat shufiyyah. Sekelompok shufi mengatakan bahwa:
-
“Ilmu laduni” atau kasyf adalah ilmu yang khusus diberikan oleh Allah kepada para wali shufi. Kelompok selain mereka, lebih-lebih ahli hadits (sunnah), tidak bisa mendapatkannya.
-
“Ilmu laduni” atau ilmu hakikat lebih utama daripada ilmu wahyu (syari’at). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidlir alaihissalam dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa alaihissalam adalah ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir alaihissalam adalah ilmu kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan: “Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany.”
-
Ilmu syari’at (Al-Qur’an dan As-Sunnah) itu merupakan hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
-
Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode kasyf, langsung didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib diyakini kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awakhir wal Awail. Dan Ibnu Arabi (638 H) menulis kitab Al-Futuhatul Makkiyyah.
-
Untuk menafsiri ayat atau untuk mengatakan derajat hadits tidak perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka “Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku.” Atau “Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung tanpa perantara apapun.”
Sehingga akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu dengan ahli kasyf (tasawwuf).
BANTAHAN SINGKAT TERHADAP KESESATAN DI ATAS
-
Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli tasawwuf. Setiap orang mukmin yang shalih berpotensi untuk dimulyakan oleh Allah dengan ilham. Abu Bakar radhiallahu anhu diilhami oleh Allah bahwa anak yang sedang dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi kenyataan. Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu termasuk sebagian balasan amal shalih yang diberikan Allah di dunia ini. Jadi tidak ada dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu, bahkan dalilnya bersifat umum, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam: “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.” (Al-Iraqy berkata: HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiallahu anhu, hadits dhaif).
-
Yang benar menurut Ahlusunnah wal Jama’ah adalah Nabi Khidhir alaihissalam memiliki syari’at tersendiri sebagaimana Nabi Musa alaihissalam. Bahkan Ahlussunnah sepakat kalau Nabi Musa alaihissalam lebih utama daripada Nabi Khidhir alaihissalam karena Nabi Musa alaihissalam termasuk Ulul ‘Azmi (lima Nabi yang memiliki keteguhan hati dan kesabaran yang tinggi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad). Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan yang nyata karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam hanya mewariskan ilmu syari’at (ilmu wahyu), Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi mengatakan bahwa para ulama yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada orang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam yang mengambil ilmu langsung dari Allah kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah.
-
Anggapan bahwa ilmu syari’at itu hijab adalah sebuah kekufuran, sebuah tipu daya syetan untuk merusak Islam. Karena itu, tasawwuf adalah gudangnya kegelapan dan kesesatan. Sungguh sebuah sukses besar bagi iblis dalam memalingkan mereka dari cahaya Islam.
-
Anggapan bahwa dengan “ilmu laduni” sudah cukup adalah kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir Al-Jailani mengatakan: “Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syari’at adalah zindiq (sesat).”
-
Inilah penyebab lain bagi kesesatan tasawwuf. Banyak sekali kesyirikan dan kebid’ahan dalam tasawwuf yang didasarkan kepada hadits-hadits palsu. Dan ini pula yang menyebabkan orang-orang sufi dengan mudah dapat mendatangkan dalil dalam setiap masalah karena mereka menggunakan metode tafsir bathin dan metode kasyf dalam menilai hadits, dua metode bid’ah yang menyesatkan.
Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Al-Bazzar dan Abu Nu’aim, hadits hasan).
source (hananismail.wordpress.com)
Tag: hikmah
September 29, 2007 pukul 6:31 pm |
beri lebih maklumat tntg khurafat….
November 19, 2007 pukul 11:17 pm |
Artikel yg bagus, cukup fair dalam menilai dan memposisikanj Ilmu Laduni yg akhir-akhir ini sering muncul di pemberitaan. Ada beberapa hal yg ingin saya komentari, mudah-mudahan bermanfaat:
1. Dilihat dari isinya (dlm persepsi saya), artikel ini bertendensi menyudutkan tashawuf, ada baiknya hal ini dihindarkan karena akan menimbulkan stigma yg negatif kepada mereka yang awam terhadap tashawuf, karena kalo tashawuf di-generate sebagai sebuah ‘aliran’ yg berpotensi menyebarkan virus-virus kesesatan, apalagi disebut sebagai tools inlis laknatullooh dalam menyesatkan manusia, lantas mau diposisikan dimana ulama-ulama seperti: Syekh Abdul Qodir Jailani, Imam Al-Ghazali, Ibnu A’thaillah, Syekh Ahmad At-Tijani, Inu ‘Arabi dsb. Dimana semua ulama ini sangat berpegang teguh kepada syariat (sebagimana terlefleksi dalam kitab-kitab karangan mereka) dan kenyataannya mereka mengaku sebagai penganut tashawuf (yg juga dapat dilihat dalam kitab-kitab masyhur karangan mereka sendiri).
2. Mengenai kedudukan Nabi Khidhir as. dan Nabi Musa as., menurut pandangan saya tidak ada perbedaan pandangan antara yg dikemukakan oleh ahli Syariat dengan ahli Kasyf (tashawuf), justru yg terjadi adalah adanya miss terhadap penerimaan informasi antara satu dengan yg lainnya. Maksud saya seperti ini, dalam tashawuf dikenal istilah Maqom dan Ahwal. Sederhananya, Maqom berarti derajat spiritualitas/derajat kedudukan seseorang di sisi Allah/kondisi bathiniah seseorang, sedangkan Ahwal adalah sesuatu yg lenih dekat kepada kondisi lahiriah/fenomena. Nabi Musa as. mempunyai Maqom yg lebih tinggi daripada Nabi Khidr as., itu jelas karena beliau adalah seorang Rasul yg Ulul “Azmi, sedangkan Nabi Khidr as. adalah seorang Nabi. Tapi, Ahwal yg dimiliki oleh Nabi Khidr as. lebih tinggi dari pada yg dimiliki Nabi Musa as., buktinya (seperti yg tertulis dalam Q.S. Al-Kahfi) ilmu Nabi Khidr as., memang lebih mumpuni dibanding Nabi Musa as., dan lagi (masih tertulis dalam Q. S. Al-Kahfi) ketika Nabi Musa as., berencana melakukan perjalanan dengan seorang muridnya (yg menurut beberapa sumber murid Nabi Musa as. tersebut juga seorang Nabi yang bernama Yusya bin Nun as.) memang diniatkan untuk mencari seorang guru yg ilmunya lebih tinggi dibandingkan beliau as. Hal ini Nabi Musa as. putuskan setelah melakukan dialog dengan Allooh SWT. dan bertanya kepada-Nya apakah di dunia ini ada manusia yg ilmunya lebih tinggi dari beliau, maka Allooh SWT. Menjawab: ‘Ada’, lalu menyuruh Nabi Musa as. untuk mencari orang itu (Nabi Khidr as) yg keberadaannya terdapat di pertemuan antara dua lautan besar.
Demikian, yg benar datangnya dr Allooh SWT. dan yg salah datangnya dari kebodohan diri saya sendiri.
April 17, 2008 pukul 8:22 pm |
Assalamu alaikum,
saran saya seandainya diterima begini: untuk membahas masalah ilmu dan segala kemungkinannya,alangkah baiknya kalau kita bicarakan di tempat yg khusus,waktu yg khusus,lebih bagus lagi kalau 4 mata.
Wassalamu alaikum.
Desember 16, 2008 pukul 11:34 am |
Saya ga perlu repot menanggapi tentang ilmu laduni…karena ilmu laduni itu bukan didasarkan atas kemauan diri kita…jika Allah berkehendak “jadilah maka akan jadi”tak ada yang bisa menolaknya dan tentunya yang mendapatkan hal laduni tersebut adalah orang yang sholeh selain itu berarti bantuan jin seolah – olah dia tahu dan menjadi sombong dengan cara membaca diri sifat orang lain…sedangkan yang benar – benar memiliki kemampuan “ilmu laduni” tidak akan dengan mudah mengutarakannya kepada siapapun karena ia kahwatirt akan menjadi ria dengan karunia yang diperolehnya…..
Agustus 26, 2009 pukul 4:35 am |
JANGAN SIBUKKAN NAFS MU DENGAN YANG SELAIN ALLAH…SIBUKKAN NAFS MU DENGAN ZIKIR YANG KAMU TERIMA DARI MURSYID MU…
SEMASA ISROK DAN MIKRAJ…NABI MUHAMAD TIDAK MEMPERDULIKAN..APA YANG YANG DATANG KEPADANYA…CUMA BERTANYA KEPADA JIBROEL ( LAMBANG GURU MURSYID )…SEBAB NABI MUHAMAD LEBIH MULIA DARI JIBROEL..
MAKA DALAM PERJALANAN KITA MENUJU KEPADA ALLAH…JANGAN PEDULIKAN ILMU LADUNI KAH ILMU BOMOH ILMU PENCAK SILAT KAH
KERANA ITU SEMUA GANGGUAN/STESYEN BAS SAHAJA…JANGAN SANGKUT DI STESYEN BAS ITU..WALAUPUN ADA WANITA CANTIK…NANTI BAPA KITA DI RUMAH TERNANTI2…ADAKAH BAGUS SEORANG ANAK SENGAJA MELAMBATKAN DIRI BERJUMPA BAPANYA….
ZIKIRLAH… BUANG DUNIA ( SELAIN ALLAH ) DARI NAFS MU…KERANA NAFS MU ITU…LEBIH LUAS DARI LANGIT BUMI DAN ISINYA…MENGAPA MENCARI HADIAH YANG MURAH…SEDANGKAN ALLAH MENYEDIAKAN HADIAH YANG TERMAHAL HARGANYA…
MOGA2 NAFS KU DAN NAFS KAMU SEMUA DAPAT KEMBALI KEPADA ALLAH…SEMASA DI DUNIA INI LAGI…AMIN YA ROBAL ALAMIN